Sejarah Desa Kajen Margoyoso Pati

Syaikh Ahmad Mutamakkin adalah seorang tokoh lokal yang menjadi cikal bakal dan nenek moyang orang kajen dan sekitarnya, yang kelak kemudian hari menjadi motivator dan inspirasi berdirinya pondok pesantren yang sekarang menjadi ciri khas desa tersebut. Syech Mutamakkin bagi masyarakat di wilayah Pati diyakini sebagai seorang Waliyullah yang memiliki kemampuan linuih baik dalam bidang spiritual ( keilmuan tentang Islam ) maupun supranatural ( karomah ). Beliau dilahirkan di Desa Cebolek, 10 Km dari kota Tuban, karenanya beliau di kenal dengan sebutan Mbah bolek di daerahnya. Sedangkan nama al-Mutamakkin merupakan nama gelar yang didapatkan sepulang menuntut ilmu di Timur Tengah, yang berarti orang yang meneguhkan hati atau diyakini akan kesuciannya. Lazimnya orang yang hidup pada zaman dahulu, Mutamakkin muda mengembara untuk memenuhi hasrat keinginannya, suatu ketika sampailah pada sebuah tempat, tepatnya di sebelah utara timur laut Desa kajen sekarang, sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pengembara pada waktu itu untuk menngembalikan suasana daerah asalnya sekaligus untuk memudahkan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, diberilah nama daerah itu dengan “cebolek” seperti desa kelahiran beliau. Di Desa barunya ini Syaikh Ahmad Mutamakkin sempat bermukim beberapa saat sampai suatu ketika ada kejadian mistik yang memberikan isyarat kepada beliau untuk menuju ke arah barat, kejadian itu beliau alami setelah menunaikan sholat isya’ dengan melihat cahaya yang terang berkilauan di arah barat, bagi mbah Mutamakkin hal ini merupakan isyarat, dan pada esok harinya beliau menghampiri tempat dimana cahaya pada malam hari itu mengarah. Disana beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua yang dalam cerita lokal diyakini sebagai orang pertama kajen yang bernama Mbah Syamsuddin. Dalam pertemuan itu terjadi sebuah dialog yang didalamnya ada penyerahan wilayah kajen dari Mbah Syamsuddin kepada Mbah Mutamakkin untuk merawat dan mengelolanya. Makam mbah syamsuddin berada disebelah barat makam Mbah Mutamakkin tepatnya di sebelah arah selatan kolam/ blumbang, yang sampai sekarang sering digunakan para santri untuk riyadloh dan menghafalkan al-qur’an. Setiap hari makam Mbah Mutamakkin di kunjungi para peziarah dari Kajen dan sekitarnya, bahkan juga dari luar kota Pati. Satu persatu mulai memasuki pekarangan berukuran 6×14 meter yang lebih tampak seperti bangunan masjid itu. Setelah sebelumnya mengambil air wudlu di tempat yang tersedia, para peziarah segera mengambil kitab Alquran, mulai duduk hikmad, secara lirih melantunkan bacaan ayat demi ayat sampai rampung. Tapi, tidak sedikit pula yang benar-benar menghabiskan satu hari satu malam untuk bertafakkur, ngaji, dan bertawassul di tempat itu. Pemandangan seperti ini memang biasa disaksikan di pesarean Mutamakkin atau mungkin juga di tempat-tempat lain yang dianggap memiliki sejarah dan nilai karomah tertentu. Datang silih berganti, laki-laki dan perempuan yang mengaku dari berbagai pelosok Pati dan sekitarnya itu memang sengaja menyempatkan diri sowan, ziarah, kirim doa, atau bermunajat di hadapan makam Mbah Mutamakkin. Biasanya, para peziarah mulai berdatangan pada Kamis siang dan berakhir pada Jum’at sore. Meskipun makam tersebut disinyalir sudah berumur +200 tahun, tetapi sawaban, keramat, dan pesona kesucian yang terpancar dari sosok Ahmad Mutamakkin masih dirasakan sampai sekarang. Bahkan, makam yang berdekatan dengan Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang dulu dipimpin oleh KH Sahal Mahfudz itu pun dijadikan oleh para santri (laki-laki) sebagai tempat untuk berkhalwat, nyepi, dan menghafal Alquran. Selain makam, tempat lain yang juga dijadikan tempat perenungan dan berkhalwat adalah Masjid Ahmad Mutamakkin, 100 m ke arah timur dari makam beliau. Masjid kuno –konon usianya + 250 tahun- yang saat ini lebih masyhur disebut dengan masjid Jami’ Kajen, ini juga menjadi tempat bertujunya para peziarah dari berbagai tempat. Di dalam masjid terdapat beberapa bagian bangunan seperti mimbar, dairoh (langit-langit dalam masjid), papan bersurat di samping tempat pengimaman shalat, dan palang pintu masjid yang diyakini hasil kreasi Mbah Mutamakkin. Dan beberapa kreasi Mbah Mutamakkin itu banyak dimaknai orang sebagai karya yang memiliki nilai filosofis yang tinggi. Misalnya, di mimbar terdapat ornamen, ukir-ukiran dengan salah satunya bentuknya adalah bulan sabit yang dipatuk burung bangau. Motif ini dimaknai sebagai semangat dan doa Mutamakkin terhadap keturunannya (termasuk keturunan simbolis/penerus perjuangannya) akan bisa mencapai cita-cita mulia. Lalu terdapat ukiran bunga yang tumbuh dari tunas sampai mekar yang juga diyakini masyarakat sekitar sebagai doa pencapaian khusnul khatimah bagi keturunannya, sebagaimana terdapat dalam papan bersurat “sing penditku ngusap jidatku”, yang termasuk keturunanku, mengusap jidatku. Di samping itu, masih terdapat sumur yang juga diyakini sebagai sumurnya Mutamakkin. Sumur ini terletak sekitar 2 km sebelah timur dari Kajen, tepatnya masuk ke dalam desa Bulumanis. Sumur ini tidak pernah kering dan masyarakat sekitar sangat yakin bahwa air sumur tersebut bisa mengobati beberapa penyakit. Di Kajen sendiri terdapat sekitar 35 pondok pesantren dan 4 madrasah, tempat-tempat inilah yang telah membuat ratusan bahkan ribuan orang datang ke Kajen setiap tahun untuk mencari ilmu dan mondok. Apalagi, setiap tahun pada tanggal 10 Suro (Muharram) makam Mbah Mutamakkin bisa dipastikan penuh dengan ribuan peziarah karena tanggal ini telah ditetapkan sebagai haul (peringatan tahunan) Mbah Mutamakkin. Salah satu fenomena menarik yang selalu menjadi rutinitas ritual haul adalah adanya momen khusus dimana kain putih penutup makam Mutamakkin dilelang secara umum. Keseluruhan kain yang diyakini mengandung kekuatan magis ini pernah dijual sampai menghasilkan uang sebanyak 70 juta rupiah. Ada juga khataman bin nadhor dan bil ghoib, pengajian, kemudian ditutup dengan karnaval dan aksi marching band dari beberapa madrasah di Kajen dan sekitarnya. Banyak para pengunjung dari luar Kajen berbondong-bondong untuk memperingati khoul Mbah Mutamakkin. Salah satunya yang ikut merayakan karnaval adalah marching band dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah. Yang menpunyai daya tarik sendiri hingga mengundang penonton untuk berjubel di halaman madrasah dan bahkan sampai di teras lantai dua dan tiga. Lepas dari hiruk-pikuk peringatan 10 suro, memang satu hal yang bisa dibaca dari efek khaul seperti itu adalah penciptaan kontinuitas pesona mitis yang diharapkan akan selalu diingat oleh siapa pun yang datang ke pesarean Mutamakkin. Haul dikonstruksi sedemikain rupa –entah sadar atau tidak- bertujuan untuk menghadirkan daya linuwih yang dimiliki oleh tokoh yang sudah meninggal sekaligus untuk melegitimasi kekuasaan para keturunannya. Dalam konteks ini, fenomena jubelan ratusan bahkan ribuan orang itu mungkin terjadi karena masyarakat melihat adanya sesuatu yang masih patut dipuja sebagai panutan yang memiliki kelebihan, karomah, dan berkah. Wallahua’lam…

No comments:

Post a Comment